TIMES SUMSEL, BANYUMAS – Jelang pelaksanaan ritual adat Perlon yang akan digelar pada 13 Februari 2026, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas mulai melakukan berbagai persiapan.
Tak hanya berfokus pada kesiapan fisik desa, dalam menyambut ribuan anak putu Banokeling yang akan pulang kampung, masyarakat adat setempat juga melakukan refleksi bersama terkait persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan bertajuk “Sampah Kreatif Ramah Lingkungan, Mewujudkan Desa Adat Banokeling yang Mandiri” yang digelar pada 27–28 Januari 2026.
Kegiatan ini diinisiasi oleh DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Magelang bekerja sama dengan Tani Merdeka Wilayah Khusus Masyarakat Adat Banokeling serta Yayasan Dharma Putra Banokeling.
Pelatihan yang diadakan menjadi bagian dari ikhtiar jangka panjang agar tradisi besar Perlon berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Sebanyak 40 anggota Kelompok Wanita Tani Dharma Putri Banokeling mengikuti pelatihan tersebut, didampingi sejumlah tokoh pemuda dan kader lingkungan desa.

Kelompok perempuan dipilih sebagai peserta utama karena dinilai memiliki peran strategis dalam pengelolaan konsumsi rumah tangga sekaligus pengendalian limbah di tingkat keluarga.
Penguatan Peran Warga Sipil
Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Ormas Kesbangpol Kabupaten Banyumas, Setyo A. Nugroho, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi lintas komunitas seperti ini menjadi contoh nyata penguatan peran masyarakat sipil.
Menurutnya, nilai-nilai budaya yang dipadukan dengan kesadaran lingkungan dapat menjadi fondasi penting bagi pembangunan desa yang berkelanjutan. “Ketika adat dan kepedulian lingkungan berjalan beriringan, maka desa tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menyiapkan masa depan,” harapnya.
Dalam sesi materi, Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kota Magelang, Sri Sumirat, mengajak peserta untuk menggeser cara pandang terhadap sampah. Ia menekankan bahwa limbah rumah tangga tidak selalu identik dengan masalah, melainkan dapat diolah menjadi sumber daya bernilai jika dikelola dengan tepat.
“Kita perlu mulai melihat sampah sebagai aset. Dari dapur rumah tangga, perubahan besar bisa dimulai,” kata Sri Sumirat di hadapan peserta.
Materi pelatihan mencakup penerapan konsep zero waste dari sumber rumah tangga, pengolahan limbah organik menjadi eco-enzym, serta pengelolaan bank sampah berbasis komunitas.
Dalam praktik pembuatan eco-enzym, peserta mendapat pendampingan langsung dari perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, yakni Yuni Dwi S, Hafiz Darmawan, Waryono, dan Dhahono Muliantoko.
Menjaga Lingkungan Sebagai Laku Hidup Adat
Ketua Tani Merdeka Wilayah Khusus Masyarakat Adat Banokeling, Aris Munandar, menegaskan bahwa bagi masyarakat Banokeling, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan teknis, tetapi bagian dari laku hidup adat.
“Dalam ajaran kami, bumi adalah ibu yang harus dirawat. Menjaga kebersihan alam adalah bagian dari peribadatan,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Dharma Putra Banokeling, Ritam. Ia menilai keterlibatan perempuan menjadi kunci agar nilai-nilai ekologis dapat tertanam kuat di lingkungan keluarga.
“Lewat tangan ibu-ibu tani, kebiasaan baik akan tumbuh dari rumah dan diwariskan ke anak-anak,” katanya.
Melalui gerakan ini, persiapan Perlon 2026 tidak hanya dimaknai sebagai agenda ritual tahunan, tetapi juga sebagai titik tolak penguatan kemandirian lingkungan dan kedaulatan ekonomi masyarakat adat.
Desa Pekuncen pun perlahan menata diri, menjaga tradisi sambil menyesuaikan langkah dengan tantangan zaman, tanpa kehilangan jati diri yang telah diwariskan turun-temurun. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Dari Tradisi ke Aksi Lingkungan, Warga Banokeling Banyumas Siapkan Perlon dengan Sampah Kreatif
| Pewarta | : Hermanto |
| Editor | : Ronny Wicaksono |